Thursday, 22 September 2016

Book Review: Terusir - HAMKA


Assalammualaikum dan  Salam Sejahtera,



Hai korang semua apa khabar hari nii? Semoga semuanya sihat dan ceria-ceria hendaknya yea. Hari nii aku nak buat satu book review. Karya Pak HAMKA memang tidak akan pernah mengecewakan... Banyak jugak buku-buku beliau yang aku dah baca antaranya... Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Dibawah Lindungan Kaabah, Tuan Direktur dan yang terbaru Terusir.


Tajuk buku ini membuatkan aku terus saja mencapai untuk membelinya. Buku ini juga nipis setebal 131 muka surat dan harganya juga murah RM13. Sinopsis cerita dibahagian kulit belakang ini lebih menarik perhatianku....Buku ini aku beli bersama dengan buku Merantau Ke Deli. 

  


Aku meminati gaya bahasa Pak HAMKA ini kerana ayat-ayat yang dikarangnya sangat halus dan menyentuh perasaan. Terasa seolah-olah dibuai ke zaman silam.

Terusir mengisahkan Mariah seorang perempuan kampung yang miskin tetapi bertemu jodoh dengan pemuda yang lebih tinggi kedudukkannya bernama Azhar. Pada mulanya hasrat Azhar ditentang oleh bapa Mariah kerana bimbang perbezaan darjat membuatkan hidup Mariah melarat. Perbezaan status diantara keduanya juga membuatkan mertua dan iparnya melakukan segala daya-upaya untuk memisahkan mereka.

Berkali-kali Mariah menulis surat untuk Azhar, namun tidak pernah dibalas.

surat Mariah untuk suaminya:
Kandaku !Tuduhan itu berat sekali, sampai sekarang aku belum mampu memikulnya. Sungguh, kesalahan itu bukan kesalahanku, itu hanyalah fitnah dan perbuatan orang lain, yang benci melihat damainya rumah tangga kita, melihat beruntung kita selama ini setelah hampir sepuluh tahun kita hidup bersama. Tidak ada angin bersimpang siur dalam pergaulan kita 

Sungguh kakanda, mertuaku benci kepadaku, karena adinda dianggap selalu mempengaruhi kakanda.Meskipun pengakuan ini tidak engkau terima, suamiku, tetapi harus kuterangkan juga apa yang terasa, jangan dia menggulung di dalam dadaku dan aku menyesal buat selama-lamanya. Dan lagi, kelak agar engkau sampaikan kepada anak ada arah yang kutuju. Tidak ada rumah yang akan ku-tempati, karena dari perlembahan datangku dan ke perlembahan aku mesti kembali.


Demi Tuhan yang memegang segala tampuk hati manusia. Aku akui memang aku orang hina, memang ayah dan bundaku dari bangsa yang tidak berkedudukan tinggi sepertimu dan kaum kerabatmu. Tetapi percayalah wahai ayah anakku, bahwa hatiku tulus adanya, meskipun aku miskin.

Ingatkah engkau suamiku, bagaimana sepuluh tahun yang lalu, sewaktu aku masih remaja, engkau bersumpah di hadapanku, bahwa engkau akan menjadi suamiku, akan membelaku sepenuh jiwa ragamu? Ingatkah engkau bahwa waktu itu mendiang ayahku telah mengatakan: "Sia-sia wahai anak muda! Engkau tidak akan tahan jika mengambil anakku menjadi istrimu, sebab kami dari bangsa yang tidak terkenal, sedangkan engkau dan kaum kerabatmu dari kalangan bangsawan, engkau akan dipandang hina oleh kaummu, akan diejek, disisihkan dalam masyarakatmu."

Ingatkah engkau suamiku, bahawa ketika itu engkau berjanji akan tahan dan sabar menerima dugaan demikian, karena engkau cintakan aku sepenuh jiwamu? Ketika itu ayahku bersumpah dengan air mata yang mengalir deras di pipinya, dia berkata: "Kalau demikian permintaanmu hai anak muda! Anakku aku serahkan ke tanganmu, serahan yang bulat-bulat. Tidak ada tempatnya bergantung lagi, melainkan engkau, sebab ibunya telah meninggal. Engkau pegang dia, didik dia baik-baik karena meskipun kami orang yang tidak terkenal, hanya orang biasa, tetapi anakku menerima sifat dari ibunya, yaitu kesetiaan1. Kalau dia engkau sia-siakan hai anak muda, engkau sia-siakan dia lantaran engkau tidak sabar dengan dugaan dan fitnah atau gelombang kesusahan hidup, maka kalau aku hidup pada waktu itu, engkau akan kuhinakan, kupandang seperti makhluk yang tidak berharga, bangsawan nama dan rendah darah. Dan jika aku mati, dari celah kuburku kukirimkan sumpah, biar dibawa oleh angin yang deras mengenai puncak dinding pusaraku, supaya engkau ditimpa sengsara hati, yang tidak putus-putus."






Setelah beberapa tahun, Azhar dinasihati oleh sahabat karibnya iaitu Haji Abdul Halim yang baru pulang dari Mekah.  Tergeraklahnya harinya untuk mencari Mariah.  Namun sayangnya, Mariah telah menjadi pembantu rumah dengan keluarga Van Oost dan dibawa ke Jakarta oleh keluarga itu.


Tak lama kemudian, majikan Mariah memutuskan untuk kembali ke Eropah tanpa membawa Mariah dan pembantu yang lain. Bermulalah lagi penderitaan Mariah. Selepas ditinggal majikannya, Mariah bernikah dengan  Yasin yang berjanji akan menjaganya.

Ternyata Yasin menikahi Mariah hanya untuk menghabiskan harta yang dimiliki Mariah. Setelah harta tersebut habis digunakan untuk berjudi dan bermain perempuan, Mariah dicampakkan begitu saja.

Kesulitan ekonomi yang dialaminya membuat Mariah tidak memiliki pilihan lain, sampai akhirnya dia masuk ke dalam lembah pelacuran demi menyambung hidupnya. Mariah menukar namanya kepada “Neng Sitti” itulah nama lacurnya sekarang.

Sungguhpun Azhar menyesal tetapi takdir menemukan mereka dalam keadaan mengharukan. Sofyan anak mereka berdua bertindak sebagai peguam bela ke atas Mariah yang melakukan pembunuhan. Dia tidak memberitahukan hal tersebut kepada Sofyan. Ketika Sofyan meminta restu kepadanya untuk membela perempuan itu, dengan gementar Azhar berkata :

Belalah perempuan itu dengan sehabis-habis dayamu, tumpahkanlah segenap kekuatan pikiran dan kepandaianmu dalam perkara ini”.

Sebelum hukuman dijatuhkan ke atasnya, Mariah meninggal dunia dalam pangkuan Sofyan. Setelah menghurai rahsia yang bertahun-tahun menyeksa jiwa, Azhar juga kemudiannya meninggal dunia. 

Wanita bernama Mariah itu terpaksa menanggung duka dan kekejaman hidup di luar sendirian...Dan inilah juga berlaku di dunia sekarang...ramai perempuan yang teraniaya disebabkan rasa tidak bertanggungjawab lelaki memegang amanah yang diberikan  oleh Allah. 


Sekian.

No comments:

Post a comment